Jeritan suara Gerald Way dari dalam ponsel memekikkan telinga Karren. Dia memaksa kulit matanya untuk terbuka dengan sedikit gerakan seluruh anggota tubuhnya yang membuatnya nyaman. Dengan mata yang masih tertutup Kareen meraba-raba balik bantal, tangannya tidak sabar menemukan benda kotak tipis yang jika dibiarkan bisa menulikan telinganya.
“Aku baru bangun tidur.” Ucap Kareen dengan suara serak.
“Cepat mandi, ku tunggu di Clésovida!” Panggilan terputus. Kareen menarik nafas panjang dan menyeret langkahnya dan menuju kamar mandi.
Mobil Kareen berjalan sangat pelan mengingat sekarang adalah musim dimana rumah-rumah akan tertutupi oleh salju. Seandainya bisa dimakan, pasti Kareen akan menambahkan cokelat dan sedikit cream vanila di atasnya. But don’t thin’ it dear, cuz its imposible you know. Kareen sedikit mengerakkan bahunya meyakinkan pada dirinya sendiri bahwa dia masih sangat amat tercekik oleh suhu yang seolah-olah ingin membunuhnya ini meskipun dia sudah memakai tiga lapis pakaian dan jaket berbulu tebal-aku yakin bulu ini tidak kalah dengan bulu beruang kutub-yang dia beli tahun lalu.
SquareQuo berhenti tepat didepan Stasiun Clésovida , dapat Kareen pastikan seseorang yang sedang melambaikan tangan dan tersenyum lepas itu Alex. Dia menghampiri Kareen dengan langkah pasti, dan dengan sekali sentakan yang menimbulakan bunyi cukup keras Kareen membuka pintu mobilnya. Alex terkekeh melihat aksi Kareen dengan pintu mobilnya.
“Ada apa?” Ucapan Kareen terdengar begitu dingin ketika dia menyadari bahwa Alex sedang menertawakannya.
“Tarik nafasmu dalam-dalam...”
“Untuk apa??” dahi Kareen berkerut.
“Lakukan saja...” Alex memalingkan wajahnya, melihat barisan pemuda yang keluar dari lorong stasiun. Kareen menarik nafasnya panjang seolah terhipnotis oleh perintah Alex.
“Kode Ramon terbongkar.” Alex menutup matanya, tidak percaya bahwa dia bisa semudah ini mengatakan hal yang sangat penting kepada Kareen.
Kareen yang mendengar kata-kata singkat itu ternganga. Yang benar saja, kode yang selama ini dijamin keamanannya dan diperkirakan tidak akan pernah terbongkar oleh siapapun ternyata sudah di ujung tanduk. Otot-otot Kareen mulai menegang, apa yang akan dia katakan kepada orang-orang di CCI?? Apakah mereka akan mengeluarkannya atau bahkan membunuhnya? Alex yang mengetahui itu langsung memegang halus punggu tangan Kareen. Dengan cepat kareen menepis tangan Alex, menghempaskan tubuh di atas jok dan menutup pintu mobilnya tanpa ampun.
Kareen menginjak rem ketika dia tiba di Lamonté, sebuah bangunan kuno bekas persembunyian kolonial inggris yang sekarang dipakai Kareen sebagai tempat untuk menidurkan mobilnya. Kareen terlihat mempercepat tempo langkahnya yang terdengar seperti hentakan. Sepatu boat yang sedikit longgar dapat dipastikan akan membuat teriakan kecil dari mulut wanita itu.
Kareen menginjak rem ketika dia tiba di Lamonté, sebuah bangunan kuno bekas persembunyian kolonial inggris yang sekarang dipakai Kareen sebagai tempat untuk menidurkan mobilnya. Kareen terlihat mempercepat tempo langkahnya yang terdengar seperti hentakan. Sepatu boat yang sedikit longgar dapat dipastikan akan membuat teriakan kecil dari mulut wanita itu.
“Aaakhh...” sedikit meleset. Ternyata dia tidak berteriak, tapi lebih terdengar seperti eluhan yang mungkin bisa membuat darah pria yang mendengarnya berdesir lebih cepat.
Kareen berhenti tepat di depan tong sampah besar di belakang sebuah klinik kecil milik seorang Irlandia yang kaya raya, tangannya membuka tutup sampah itu dan..
“Aaaaww!!” terdengar sedikit teriakan keras ketika lututnya terbentur marmer berwarna biru pucat yang sangat dingin.
Zahk, disinilah dia sekarang sebuah tempat dengan peralatan canggih yang mengelilinginya. Di setiap sisinya dia tidak akan menemukan dinding, hanya sebuah layar komputer besar yang kadang-kadang memunculkan berbagai data-data penting atau malah gambar-gambar luar angkasa yang membuatnya merasa sedang tidak berada di bumi. Di bagian atas dia bisa melihat warna putih yang dihiasi oleh polkadot hitam, disanalah suara-suara siapapun orang yang dia mau terdengar. Mamer yang sekarang dia injak bisa saja mengantarkannya ke sudut mana saja dia mau hanya dengan mengeja kata ‘walk’ dengan logat Perancis.
Seorang pria dengan rambut pirang kecoklatan dan mata yang hitam pekat kontras dengan kulitnya mendekati Kareen. Langkahnya yang tegas mengingatkan akan Jackleon, seorang tentara Romawi yang sangat indah perawakannya, gagah dan selalu saja memancarkan senyum di wajahnya yang meninggal karena perang antara Romawi dan Persia. Tapi pria di depannya ini masih hidup dan masih saja melangkahkan kakinya mendekat ke arah tubuh Kareen.
“Fein...” suara Karen tercekat, tidak mampu meneruskan kata-katanya. Tatapan pria di depannya itu seolah-seolah mengatakan ‘cepat katakan!’ dengan sedikit menelan ludah Kareen mengumpulkan tenaganya untuk membalas tatapan pria didepannya itu dengan tatapan yang seolah-olah mengatakan ‘bunuh saja aku, dasar bocah!’, Kareen mengedipkan matanya dan mengatupkan kedua giginya.
“kenapa ini semua bisa terjadi...??” otot-otot di leher Kareen mulai menegang ketika menanyakan sesuatu itu kepada Fein. Mata pekat yang dari tadi menatapnya itu tertutup. Fein menghembuskan nafasnya pelan. Kareen mengguncang bahu Fein dengan keras ketika tidak ada jawaban yang dia terima. Kareen mulai mengerang keras, memukul puncak bahu Fein dengan seluruh kekuatannya. Fein tetap terdiam, tak mengatakan apapun. Kareen mulai menangis melihat pria didepannya yang hanya diam. Tangisannya terdengar seperti tangisan anak kecil karena mainan yang baru saja diberikan oleh ibunya diambil paksa oleh teman sebangkunya.
“Kita bisa memperbaikinya...” Fein terdiam sejenak, memikirkan kata-kata yang baru saja dia pikirkan.
“Apa kau bilang?” Kareen melebarkan bola matanya “memperbaiki? Apanya yang bisa kau perbaiki? Kode itu terlanjur dibobol oleh seseorang dan tidak ada yang bisa kita lakukan lagi kecuali menunggu orang-orang CCI datang dan membunuh kita.”
“Setidaknya kita bisa tahu siapa yang sudah membobol kode itu, dan yang terpenting Kode Rochen masih belum dibobol dan separuh data di dalamnya masih aman.” Ucap Fein dengan suara mencoba untuk menahan emosinya.
“Hey bung, kita disuruh untuk menjaga data itu sepenuhnya bukan setengah. Dan aku tidak mau mati karena ketidak-becusanmu.” Hawa sedingin es keluar dari mulut Kareen yang merobohkan pertahanan Fein.
“Hey nona, jaga kata-katamu, jika tidak akan ku pastikan CCI akan cepat menemukanmu, membunuhmu dengan sekali tembakan dan beritamu tak akan muncul di koran manapun. Ingat, mereka membunuh dengan sangat bersih.” Bisik Fein tepat di telinga Kareen dengan hawa yang tidak kalah dingin. Kareen terdiam. Sialan! Pikirnya dalam hati.
Fein menjauh dari tubuh Kareen dan melangkah ke ruang utama Zahk, Kareen yang masih bisa merasakan hawa dingin yang dipancarkan Fein mengikutinya dari belakang.
“O-P-E-N” Fein mengeja kata open dengan logat Perancis yang sangat kental. Semua layar komputer yang mengelilingi Kareen menampilkan layar hitam dengan tulisan-tulisan putih kecil di atasnya. Kadang Kareen merasa kagum akan ruangan ajaib yang diciptakan seorang gadis berumur dua puluh tahun yang dilahirkan di sebuah pedesaan tandus di sebelah timur Callifornia. Layar-layar ini bisa mendeteksi seseorang yang dia incar dengan sekali kedipan.
“Timur tengah?” Kareen menatap seseorang di depannya. Mulai bertanya-tanya tentang tulisan yang muncul jelas didepan wajahnya.
“Sinyalnya berkata begitu,” layar mulai berubah tampilan menjadi sebuah peta besar dengan sebua titik yang berkedip setiap satu detik “dia ada disana!” Fein menunjuk ke arah titik yang berkedip. Titik itu berkedip ke suatu tempat yang bernama Yaman.
“Hey apa ini?” teriakan Fein tertahan ketika melihat titik itu tiba-tiba berpindah. Sekarang dia berada di Turki, kemudian dengan lebih cepat titik itu berpindah ke Libya dan sekarang... Perancis.
Kareen tersenyum kecut, “bodoh!’ sindiran yang sengaja dia berikan kepada fein tepat menghujam ke titik rawan yang merobohkan pertahanan Fein.
“KAAAAAARRRLLL....” jerita Fein menggema, hanya dengan mengatakan sebuah kata yang terdiri dari empat hurut layar-layar yang mengelilingi kedua makhluk itu berkedip-kedip, suara-suara yang keluar dari atap terkalahkan oleh hembusan nafas Fein yang berusaha untuk menenangkan dirinya.
CIBLE TROVE[1]. Kata-kata itu muncul di layar. Fein mengalihkan tatapannya tepat lurus ke arah mata Kareen. Salah satu ujung bibirnya tertarik membuat sebuah senyuman yang semua orangpun tahu apa artinya.
“Pergilah, biar aku yang menyelesaikannya. Dan jangan pernah hina aku dengan sebutan bodoh jika kau tak lebih pintar dariku.” Kareen hanya bisa diam mendengar kata-kata yang di ucapkan Fein “Au revoir[2], Kareen..”
“Au revoir, ā demain[3] Fein..” Kareen melangkah pergi dari hadapan Fein.
Fein melihat punggung Kareen yang semakin menjauh darinya. Dia memalingkan tatapannya ke arah layar. Mengikuti kemana arah titik yang masih saja berpindah-pindah. Good man and good worm, batinnya. Ekor matanya melihat ke arah Rolex yang menempel di pergelangan tangan. Seberapa lamapun akan ku tunggu kau.
Tiiiiiiiiittt....!! Suara dari atap semakin mengembangkan senyuman Fein.
“Je vous avez! Vous ne pouves pas sortir! I’homme![4]”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar