Iringan lagu Barry Marylow terdengar dari dalam Restoran Orchard Mattew, restoran elite terletak di pinggir dermaga kota Plymouth. Dindingnya yang berwarna Blanced Almond dipadukan dengan garis –garis dan lengkungan keemasan cukup menandakan behawa di dalamnya hanya ada orang-orang yang dikelilingi oleh jutaan dollar yang tercecer.
Mata Kareen terpejam menikmati irama yang diciptakan tuts piano di ujung ruangan yang dimainkan seorang pemuda yang mempunyai rambut ikal dan selalu saja tersenyum memandangi pengunjung yang terlena dengan permainan yang dimaikannya.
“apa kau sudah dapat kabar dari Fein?” tanya Alex dengan sesendok Gelatoo Sole Mio[1] ditangannya.
“Belum.”
“Ini dia,” Alex merogoh saku kiri celananya yang sedang bergetar. Alex menatap Kareen dengan sebuah senyuman yang tidak bisa ditebak. “mungkin setelah ini pekerjaanmu akan semakin berat.”
“apa maksudmu?” tanya Kareen dengan menekankan intonasi di setiap katanya.
“aku disuruh menyampaikan kepadamu bahwa target sudah ditemukan,” Alex menghentikan perkataannya ketika melihat Kareen semakin melebarkan matanya, tiba-tiba tanpa bisa ditahan Alex terkekeh dan membuat kareen semakin melebarkan matanya.
“oke..oke.. target sudah di temukan di Turki. Dan minggu depan kau disuruh meletakkan batu-batu pengintai itu di tempat yang sudah dia tentukan.”
“Kenapa harus aku?” protes Kareen dengan suara yang melengking. Mata Alex melebar melebihi mata Kareen sebelumnya.
“Mana aku tahu, gembel...!!!” ucap Alex dengan gemas.
Pesawat mendarat tepat pukul limas sore, tapi di Turki terlihat masih siang. Kareen menyeret kakinya menuju barisan taxi yang menunggu makanannya di depan bandara.
“safran hotel, please.” Ucap Kareen sambil melepaskan tali belakang high heelsnya yang meninggalkan bekas merah di kakinya, sungguh perjalanan high heels dengan hak lima belas senti adalah perjalanan paling menyakitkan. Kareen memalingkan pandangannya ke arah jalan-jalan yang ia lewati. Matanya menangkap sebuah patung Theseus di pinggir jalan. Theseus adalah pahlawan yang membunuh Minotaur, makhluk pemakan yang memiliki kepala berbentuk sapi jantan dan tubuh seperti manusia. Lalu kenapa patung ini bisa disini? Eh, sebentar, apa peduliku ha??
Kareen memandangi hotel yang ada di depannya di balik kacamata hitam yang dia pakai. Seseorang dengan jas DimGray dan rahang yang tegas mendekatinya.
“Merhaba nona, I’m Engin Akgϋn” ucap pria berkacamata hitam sama dengan Kareen yang kini sudah ada di depannya itu.
“Oh Sir Engin,” kedua ujung bibir Kareen terangkat “apakah kau sudah memesankan kamar untukku?”
“Alex adalah teman lamaku, apa saja yang dia perintahkan akan ku lakukan dan sebaliknya,” tangannya mengambil sesuatu dibalik saku jasnya dan sebuah kunci dengan tulisan B-109 yang tertera di atasnya “kalau kau butuh bantuanku tinggal telepon dan secepatnya aku akan datang.” Ucap pria itu dan meninggalkan Kareen.
Mungkin lima belas derajat sudah cukup untuk mengeringkan keringat yang menempel di tubuhnya. Kareen meringkuk di bawah selimut setelah menyalakan AC dengan suhu ekstrem-tidak terlalu ekstrem jika dibandingkan dengan musim dingin Desember kemarin di Perancis. Ponselnya berdering sangat keras, ada satu pesan di dalamnya dari Fein tentang apa yang harus dia lakukan di Turki. Kareen menarik dan merapatkan selimutnya. Besok dia arus melakukan perjalanan panjang, bertemu Engin dan teman-temannya, mungkin dari Mundane Person[2] sampai temannya yang mampu menciptakan Wank Worm, meletakkan batu-batu kecil yang digunakan untuk mengirim sinyal ke Zahk, semacam batu pengintai, sebenarnya sebelumnya Fein sudah meletakkannya di Turki dua tahun yang lalu, tapi dia ingin Kareen meletakkan yang lebih banyak lagi disini, “agar lebih akurat” katanya waktu Kareen bertanya kenapa harus diletakkan batu lagi.
Kareen memejamkan matanya.
Uap menyembur bebas keluar dari atas cangkir bening, sedikit adukan saja bisa membuat minuman hangat itu terasa nikmat. Alex menambahkan sedikit lagi latte ke dalamnya.
“ternyata selain ahli menaklukan wanita, kau juga ahli membuat coffelatte, benar-benar multi-talent.” Fein sudah berdiri di belakang Alex ketika Alex menyelesaikan minumannya. Alex tertawa sumbang mendengarkan celotehan Fein.
“wanita?” Alex menyodorkan segelas coffelatte ke tangan Fein. “Kareen maksudmu?” Alex mencoba menebak. Fein memutar bola matanya menirukan gaya orang berpikir.
“siapa lagi? Emang kau bisa menaklukan Taylor Swift?” jawab Fein sambil mengangkat alisnya. Alex hanya mengangkat bahu dan kembali melangkah ke ruang utama zahk yang dikelilingi layar –layar yang amat cerdik, hanya dengan mengeja “SEE KAREEN” dengan logat Perancis, Alex bisa melihat semua aktifitas yang dilakukan Kareen. Fein mengikuti langkah Alex. Dua orang pria itu sekarang sedang memaksakan pandangannya ketika melihat Kareen dengan perjalanan yang paling membosankan meletakkan puluhan batu di tempat-tempat yang sudah ditentukan. Alex mengulum senyum, betapa cekatannya wanita itu.
Kareen menghempaskan tubuhnya di salah satu kursi Caffe Rettra, salah satu restoran ternama di turki yang dia ketahui setelah membuka layar laptopnya dengan sentuhan halus jarinya dia dapat mengetahui semua tempat di negeri ini.
Seorang pelayan dengan seragam berwarna Najavo White yang membalurt tubuhnya menghampiri Kareen. “Gunaydin nona[3].” Rupanya orang ini mengiraku penduduk asli sini, rutuk Kareen dalam hati.
“English please.” Ucap Kareen dingin. Pelayan didepannya tergeragap tapi tetap mempertahankan senyumnya, kemudian menyodorkan buku menu diatas meja. Kareen menghembuskan nafas pelan ketika membaca berbagai menu yang asing di matanya, tapi dia bisa tersenyum lega ketika melihat selembar menu yang tidak asing. Kareen menutup buku dengan satu sentakan dan mengalihkan pandangan ke arah pelayan.
“café au lait[4], bifteck[5] dan pommes frites[6]” ucap Kreen masih dengan nada sedingin es. Pelayan pria itu menatap mata Kareen, mengedipkan sebelah matanya dengan cepat dan tersenyum meninggalkan Kareen. Cih!
Kareen keluar restoran dengan wajah datar. Bersumpah pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan menginjakkan kakinya ke dalam restoran itu lagi.
Tawa membahana di ruang utama Zahk. Fein memegang erat perutnya menahan sakit akibat tawa yang dihamburkan mulutnya, dia berguling-guling dan menatapkan seluruh anggota tubuhnya di atas marmer dingin Zahk. Alex yang melihat tinggat fein ikut tertawa, yah setidaknya dengan cara yang lebih terhormat.
“Sudahlah,” Alex memberikan tangannya, menarik tubuh Fein untuk berdiri “dia sudah dewasa.”
“Tapi selama dua puluh tahun aku bersamanya aku tidak pernah melihat ekspresinya berubah seperti itu.” Ucap fein dengan wajah mencoba untuk meyakinkan Alex bahwa apa yang dia katakan benar. Alex tersenyum dengan salah satu ujung bibirnya.
Kareen mengelilingin Kota Bursa dengan mobil yang dipinjamkan Engin padanya. Meskipun fasilitasnya tidak selengkap mobilnya di Perancis, setidaknya mobil ini tidak kalah cepat dengan Bugatti Veyron milik Alex yang berharga hampir dua juta dollar dengan kecepatan tertinggi empat ratus tujuh kilometer per jam itu.
Suara Gerald way terdengar dari dalam hanphone Kareen. Perlahan Kareen menarik kakinya dari pijakan gas.
“ada apa?”
“Setelah selesai meletakkan batu, cepatlah pulang!”
“yah mungkin,” Kareen memutar setirnya ke arah kiri “memangnya ada apa?”
“aku tidak ingin kau terlalu lama di Turki, mungkin akan berbahaya bagimu. Pria cerdik itu cepat atau lambat akan tahu keberadaanmu dan kemungkinnan besar dia akan membunuhmu.” Kareen dengan tiba-tiba menginjak rem.
“kenapa bisa begitu?” tanya Kareen dengan suara tercekik.
“itu hanya kemungkinan.” Jawab Fein menenangkan, tapi tetap saja jawaban itu tidak akan bisa membuat hati Kareen tenang. Karen menekan tanda merah di layar handphone-nya dan panggilanpun terputus.
Kareen mulai menginjak gas dengan perlahan dan mulai mengais memori dalam otaknya. Mencoba mem-flash back ulang masa-masa kecilnya.
Seorang pastur itu tersenyum sangat renyah dihadapan gadis kecil itu.
“sekarang kau akan tinggal bersamaku dan panggil aku daddy.” Ucap laki-laki itu dengan wajah ramah dengan membungkukkan badannya, menyetarankan wajahnya dengan gadis kecil di depannya. Gadis kecil berumur lima tahun itu masih belum bisa mencerna kata-kata laki-laki di depannya.
“Hey daddy, apakah dia saudara ku?” teriak seorang lelaki kecil kepada pastus itu sambil berlari dari dalam rumah “apakah kau bisa bermain ini?” lelaki itu menyodorkan sebah mobil-mobilan kepada si gadis kecil. Si gadis kecil hanya bisa tersenyum.
“Iya Fein, ini saudara barumu. Panggil dia Kareen, kau mengerti?” ucap sang Pastur kepada laki-laki kecil bernama Fein.
“yah aku mengerti” jawab Fein dengan senyum mengembang.
Sang Pastur itu mendekati Kareen dan memberikannya sebuah map, dia akan menjaga map itu sampai kareen dewasa dan membetuhkannya.
Sepuluh tahun kemudian, saat Kareen genap berusia lima belas tahun, ayah angkatnya itu memberikan apa yang selama ini dia simpan. Ada sebuah berkas yang mengatakan Kareen diwaris sebuah tempat bernama Zahk oleh ibunya, dan ada juga sebuah mini disk didalamnya. Kareen dan Fein mencari Zahk hingga akhrinya mereka dapat menemukannya. Sejak Kareen menemukan Zahk, hidupnya berubah. Dia lebih sering berada di Zahk daripada di rumahnya, mempelajari apa yang selama ini harus dia pelajari. Siang malam dia sibuk dengan layar-layar monitor yang diaanggapnya sebagai keluarganya sendiri. Karena setiap melihat Zahk, dia selalu teringat akan ibunya.
Saat kareen berumur delapan belas tahun, tiga orang pria datang ke rumahnya. Menawarkan Kareen akan pekerjaan yang selama ini mungkin menjadi impiannya setelah tiga tahun menghabiskan waktunya dengan Zahk. Tiga pria itu juga mengatakan bahwa ibu Kareen juga pernah bekerja di CCI jadi semakin membulatkan tekad Kareen untuk menerima tawaran itu dengan syarat Fein harus ikut bekerja bersamanya. Tiga orang itu langsung menyetujuinya.
Tujuh tahun bekerja di CCI, dia bisa menemukan hal-hal baru.di CCI juga dia bertemu dengan Alex yang merupakan teman kerjanya. Di CCI semua orang menjaga data-data rahasia yang terkadang mereka sendiri tidak tahu apa isi data tersebut, dan itu sama dengan kasus Kareen ini, menjaga sesuatu tanpa mengetahui isinya. Dan jika data itu terbongkar, maka orang yang bertanggung jawab menjaga data itu akan menjadi buronan CCI. Tidak sampai dua bulan orang itu akan hilang tidak membekas. Dan areen tidak mau itu terjadi kepadanya. Kareen menarik nafasnya panjang.
Kareen meyeruput minuman yang dipegangnya sambil menerawang lurus, besok adalah hari terakhirnya. Tapi dia masih belum bisa menemuakan apapun. Apakah hidupnya akan benar-benar berakhir? Tidak, Kareen tidak ingin itu terjadi. Kareen merogoh handphone-nya,
“Engin, apa kau punya teman yang bisa membantu pekerjaanku ini?” suara Kareen terdengara jelas.
“lebih baik kau pergi ke Indonesia disana ada teman istriku, semoga mereka bia membantumu.”
“siapa namanya?” tanya Kareen tak sabar.
“orang yang memakai username nay0028 dan zyv00r kau pasti bisa mengenali user ini.” Ucap Fein dari seberang. Kareen terbelalak, mendengar dua username yang tidak asing lagi di telinganya.
“oke, besok aku akan berangkat ke Indonesia.”
Embun pagi turki mengantarkan perjalanan Kareen ke Indonesia. Sekali lagi Kareen memejamkan mata dan merapatkan mantelnya dan mulai melangkah menuju taxi di depannya.
Bandara Intizam menjadi awal jejak melangkahnya. Di pagi yang remang-remang bandara ini sudah menunjukkan aktifitasnya. Para penumpang yang akan berangkat dan baru saja tiba mungkin akan terlihat seperti semut-semut berwarna jika dilihat dari atas sana, bunyi mesin pesawat yang landing dan take sementara akan menulikan telinga, kareen mulai bosan menunggu pesawatnya yang kunjung tiba.
“attension please, to all of passenger with flate number Airbus 757-900R Living for Singapore, please come to plane roo, gate three!” mendengar panggilan itu hati Kareen berbunga, sebentar lagi dia akan mempraktekan ilmunya setelah sepuluh tahun belajar menguasai dua puluh bahasa dan salah satunya Bahasa Indonesia.
Setelah menunggu di living room selama sengah jam. Akhirnya pesawat siap untuk mengudara lagi. Penumpang dipersilahkan masuk melalui Pintu Garbaharata[7] .
Langkah para penumpang terdengar begitu jelas. Tak tanggung-tanggung, pewasat yang dia tumpangi mampu menampung dua ribu menumpang. Ketika pesawat mulai landing, badan Kareen seperti digoyangkan. Pilot pesawat melakukan kontak dengan menara pengawas untuk memastikan giliran terbang.
Akhirnya pesawat mengudara dengan ketinggian jelajah dua ribu kaki di atas permuakaan laut. Saat oesawat sudah stabil. Kareen melihat apa yang ada di balik kaca kokpit, gedung-gedung yang mencoba mencengkeram langit terlihat seperti miniaturdan setelah itu Kareen dapat melihat laut yang berkilau karena pancara sinar matahari, kapal-kapal yang berada di atasnya tampak seperti mainan. Hampir enam jam mengudara di langit biru, sampailah Kareen di Bandara Change dan ternyata dia masih harus transit untuk mengganti pesawat. Kali yang akan membawa Kareen ke Indonesia adalah pesawat garuda Indonesia. Transit kali ini tidakmemakan waktu yang lama. Setelah keluar dari gate 4 para penumpang yang transit langsung di arahkan ke ruang tunggu transit. Hanya tiga puluh menit di ruang transit, pesawat yang ditunggu siap untuk terbang.
Sesampai di Bandara Soekarno-Hatta, Kareen segera turun ke bawah mengambil barang-barang di bagasi lalu menuju pintu keluar yang diisana dia disambut ribuan kepala manusia yang sedang menunggu seseorang yang keluar dari pesawat. Mata kareen mencari-cari papan nama yang bertuliskan namanya. Dia memicingkan matanya ketika melihat seorang wanita mengangkat papan nama yang bertuliskan namanya. Yah, benar! Kareen melangkah mendekati wanita yang tidak sendirian itu.
“hi, are you Kareen?” tanya wanita yang membawa papan nama.
“yes, right” senyum kareen tak bisa terbendung ketika melihat lawan bicaranya “nice to meet you, what your name?”
“I’m Zivo and she’s my friend, Ayu.” Zivo menjulurkan tangan dan dibalas hangat oleh Kareen “Kareen, we’re so sorry if we done any mistake with our english cause our english’s suck!” Zivo mencoba menerangkan sebelum kareen tertawa karena kepayahannya menggunakan bahasa internasional itu.
“no, your english so fluently I see. And don’t worry cause though little bit, i know indonesian.” Ucap Kareen membuat kedua wanita di depannya saling berpandangan. “I’ll try it. Jangan bingung karena ini memang kelebihanku, ayo kita pergi atau kalian mau disini sampai nanti?” Kareen melebarkan bola matanya menunggu jawaban dua wanita yang semakin menyipitkan matanya. Freak it!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar