Kareen memasuki sebuah apartemen yang cukup besar dibandingkan dari apa yang dia bayangkan. Kakinya mulai terasa sakit ketika dia mulai menyadari betapa panjangnya perjalanan yang baru saja dia tempuh. Kareen dan Zivo berhenti di depan sebuah pintu berputih dengan garis hitam di setiap sisinya.
“tidak apa-apa kan?” Zivo memalingkan wajahnya ke arah Kareen seraya memegangi ganggang pintu. Kareen memasang wajah seolah-seolah berbicara ini-sudah-lebih-dari-cukup!
“yah inilah apartemenmu selama kau tinggal di Indonesia.” Ucap Zivo sambil membentangkan tangannya.
“yah inilah apartemenmu selama kau tinggal di Indonesia.” Ucap Zivo sambil membentangkan tangannya.
“Okay, better you back and let me sleep” jawaban yang tidak sopan keluar dari mulut Kareen. Zivo menyipitkan matanya. “Hahaha... just make a joke on you,” Kareen terkekeh setelelah melihat ekspresi Zivo.
“Even you kid on me, I wanna back and let you go to bad dream I wish.” Senyum zivo mengembang “see you tomorrow” Zivo melenggang pergi dan menutup pintu.
Keesokan harinya hujan lebat mengguyur kota Jakarta. Kareen berlari dari taxi menuju rumah Ayu dan itu membuatnya basah kuyup meskipun jarak taxi dengan pintu rumah Ayu hanya sepuluh meter. Seorang wanita dengan penutup kepala membukakan pintu.
“hey, cepat masuk!” suara Ayu terdengar sangat bersahabat di telinga Kareen. Kareen berjalan mengikuti Ayu.
“Apa tidak panas?”
“Maksudmu?”
“Hijab.”
“No, but make me comfortable.” Ucap Ayu. Kareen menghentikan langkahnya dan menatap Ayu.
“Believe me, you’re lie.” Ucapan Kareen membuat Ayu terkekeh.
“Huh, up to you if that make you happy.”
“hahaha. Okay.”
Ayu mendekati laptopnya yang ada di atas kasur sangat amat empuk yang sengaja di pesan mamanya dari Spanyol. Tangannya menekan sebuah lingkaran dengan sebuah garis di tengahnya. Dia menulis sebuah kode yang biasa di buka untuk mengincar sebuah worm. Alt+R-B-V-S dan enter. Butuh setengah jam untuk menerima jawaban dari kode yang baru saja dia ketik.
“Nggak ada,” Suara Ayu hampir tidak terdengar “worm itu terlalu pintar.” Tangannya masih saja menekan keyboard.
“kalau dia tidak pintar, dia tidak akan bisa membuka kode Ramon.”
“aku tahu.”
Setelah tiga jam berada di depan komputer dan tidak ada sesuatu yang mereka inginkan. Ayu merebahkan tubuhnya di atas kasur. Matanya terpejam. Kareen menirukan gaya Ayu, mencoba membayangkan sebuah mukzizat datang dan membokar siapa seseorang dibalik worm pintar itu. Tiba-tiba Ayu terbangun dan membelalakkan matanya.
“kenapa aku tidak mencoba alat buatanku saja?” tanyanya pada Kareen dengan volume tinggi. Kareen yang tidak tahu apa-apa mengangkat bahunya.
Ayu menarik laptopnya, menekan keyboard dengan cepat dan matanya sama sekali tidak berkedip seperti sengaja di pause saat matanya terbuka. Ayu tidak menyadari bahwa seseorang di sebelahnya juga tidak menutup matanya karena terkagum-kagum akan kecepatan jari Ayu. Kalu begini bukan seratus kata per menit, tapi seribu kata per detik, ucap Kareen dalam hati.
Satu jam sudah Ayu tetap pada gayanya sampai-sampai Kareen bisa menghitung dengan jari berapa kali Ayu mengedipkan matanya. Ayu tersenyum bersamaan dengan pintu kamarnya yang terbuka.
“hey, how are you guys?” tanya Zivo sambil meletakkan tasnya di gantungan yang ada di balik pintu.
“Very bad,” jawab Ayu “till you come and now you all will smile with all I did cause I find it.” Kareen yang ingin tertawa karena kepayahan grammar Ayu menahan senyumnya ketika mulai memahami apa yang diucapkan Ayu.
“Jadi kamu sudah menemukannya?”
Ayu tersenyum dan mengangguk, “ternyata tidak sepintar yang ku bayangkan.”
Kareen yang tidak percaya dengan apa yang didengar langsung menarik laptop Ayu. Dia bisa melihat dengan jelas tulisan yang tertera di atasnya
_ _ _ Alt/RBUS/_00000-8% x x x _x x _
Meps _x x x_ Options > Advanced option > 009_Hack
Stop 120% buzz 80% bizz 20% dexx 11% tan 1%
Search = 9 9 4 1 1 1 www
Password = Hack 000718-Meps
Username = 009-919
Protect = Hack <b> Hack <b/b>
Have Found = Faylor Alex Ferdinand_hacker919_009
Mata Kareen terbelalak, jika mata bisa dengan mudah keluar, mungkin saat itu juga matanya akan tergelincir dengan sendirinya. Nafasnya juga semakin tidak teratur. Ayu dan Zivo yang melihat keadaan Kareen panik dan menggungcan bahu kareen dengan keras. Kareen tetap tidak bergeming, dia masih tidak bisa percaya tentang apa yang dia lihat.
“Malam ini aku kembali ke Perancis.” Air matanya tiba-tiba keluar. Kedua wanita yang ada di sampingnya itu hanya bisa terdiam.
Pesawat yang dinaiki Kareen terasa sangat lambat. Mata Kareen terlihat sangat lelah ditandai dengan sentuhan warna hitam di bawah matanya. Pramugari yang mondar-mandir membuat pening kepala Kareen. Kareen mencoba menutup matanya mencari sebuah ketenangan.
Kareen memandangi apartemen didepannya setelah melakuakan perjalanan yang sangat amat panjang di malam hari yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya. Matanya tak lagi ingin terpejam. Semua rasa lelah yang dia rasakan berubah menjadi amarah yang ingin sekali dia keluarkan.
Braaaakk!!!!
Kareen mendobrak pintu sekeras mungkin. Meyakinkan dirinya bahwa dia benar-benar marah. Tangannya mengepal erat, dengan sisa energi yang dimilikinya, dia berjalan ke arah Alex. Kepalanya membengkak sehingga dia harus mengeluarkan isi otaknya secepat mungkin.
“Aleeeexxx!! Penghianat kaaauuu!” teriaknya membuat kedua alis Alex saling bertaut. Kareen mendekati Alex dengan langkah tergesa-gesa dan mencengkeram kerah Alex “tak pernah ku sangka ternyata kaulah orang di balik semua ini, ternyata kau tak lebih dari seekor serigala berbulu domba. Kau berpura-pura menyelidiki siapa pembobol kode itu tapi ternyata kau sediri orangnya. Apa kau sengaja ingin membunuhku, hah?” Suara dan bibir Kareen bergetar.
“Percuma saja kau seperti ini.” Kata Alex dengan santai.
“Percuma karena apa? Karena meskipun aku marah kepadamu semuanya tetap saja terlambat dan CCI pasti cepat atau lambat akan membunuhku? HAH, manis sekali perkataanmu!” Kareen menggenggam erat tangannya dan memalingkan wajahnya.
“Bukan, tapi karena ini....” Alex menggerakkan kursi putarnya agar Kareen bisa mendekati komputernya dan melihat apa yang ada di dalamnya.
Kareen melangkah maju. Membaca tulisan-tulisan yang ada di dalamnya. Dia melihat data beberapa orang dan tanggal-tanggal kematian mereka. Matanya terbelalak ketika dia melihat nama ibunya tercantumkan.
“Apa ini?” suara Kareen tertahan.
“Itu isi data yang selama ini kau lindungi.”
“Kenapa nama ibuku bisa ada disini?” Kareen menggerakan kursor ke bawah, mencari apa yang sedang terjadi dan nafasnya terhenti ketika dia juga menemukan namanya dan nama Alex tercantum juga dan disitu ditulis dengan jelas tanggal kematian mereka.”
“Ingatkan, ibumu sama persis meninggal seperti tanggal yang tercantum disitu. Dan ayahku juga tercantum disitu dan dia meninggal juga sama seperti tanggal yang ada di dalam situ. Dan mungkin kita juga akan meninggal seperti tanggal itu. Dari sepuluh orang yang tercantum, tidak ada yang meleset, semuanya mati,” Ucapan Alex yang menghembuskan hawa dingin, membekukan tubuh Kareen. Darahnya berhenti mengalir. Jantungnya berhenti berdetak. “dan ini semua rencana CCI. Jadi meskipun data itu sekarang tidak terbongkar, kamu tetap saja akan mati di tangan CCI.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar